1 Jan 2014

OMAH MUNIR


03.56 |

Pernahkan anda mendengar nama Munir Said Thalib, SH atau lebih familiar di panggil Cak Munir? Beliau adalah salah seorang pejuang HAM yang menjadi korban konspirasi negara kita. Alm. Munir lahir di Batu, 08 Desember1965. Cak Munir meninggal di dalam pesawat Garuda Indonesia  pada perjalanannya menuju Amsterdam di tanggal 07 September 2004 dalam rangka akan melanjutkan studi S2 bidang hukum humaniter di Universitas Utrecht, Belanda. Terakhir Beliau menjabat sebagai Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial. Biografi mengenai Cak Muir selengkapnya dapat anda lihat di wikipedia.



Atas prakasa Istri Alm. Munir, SH dan teman temannya (Glen Fredly, Butet Kertaradjasa, Melanie Subono, Untuk mengenang dan melanjutkan perjuangan Beliau,  maka di dirikanlah Omah Munir sebagai Museum Hak Asasi Manusia. Museum ini tidak berisikan mengenai perjuangan Alm. Munir saja, melainkan juga berisikan tentang sejarah perjalanan Hak Asasi Manusia di Indonesia. Omah Munir ini sendiri merupakan rumah pribadi Alm. Munir, SH yang oleh istrinya Suciwati Munir di dedikasikan sebagai Museum HAM di Indonesia.
Omah Munir sendiri adalah sebuah inisiatif menjadikan sosok paling berharga dalam sejarah perjuangan penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia, yaitu Munir, sebagai ikon utama pendidikan HAM di Indonesia. Dengan mengambil bentuk museum, inisiatif ini bertujuan memberikan cara pembelajaran yang lengkap, melalui tampilan ruang dan audio visual, tentang dimensi-dimensi figur penting Munir dalam memperjuangkan agenda penegakkan HAM di Indonesia. Konsep dasar pembangunan omah munir berpijak pada pentingnya menanamkan prinsip karakter seorang individu yang menjadi sumber inspirasi berkembangnya inisiatif kemanusiaan yang lebih besar dibanding lingkup kehidupan individu itu sendiri di kalangan generasi muda Indonesia. Omah Munir menjadi alat pembelajaran bagi banyak orang tentang pentingnya sebuah karakter dan tekad yang kuat dalam memperbaiki kehidupan banyak orang di luar kehidupan pribadinya, yang ditunjukkan melalui keberanian dan kegigihannya.
Sosok Cak Munir ini akan menjadi martil terkeras dalam penegakkan dan keadilan HAM (Hak Asasi Manusia) di Indonesia. Namanya semakin terkenal ketika ia banyak terlibat dalam pengungkapan kasus pelanggaran HAM di berbagai tempat dan kasus, seperti kasus buruh Marsinah, Talangsari, Aceh, Timor-Timur, Penculikan Aktivis 98 dan masih banyak kasus lainnya.
Pada 20 maret 1998, Munir dan kolega membentuk badan advokasi untuk mengusut kasus penculikan para aktivis mahasiswa yang secara kritis kerap mengoreksi pemerintah rezim Soeharto. Komisi untuk orang hilang dan korban kekerasan atau biasa disingkat KontraS, demikian nama lembaga tersebut. Lembaga ini yang kelak menjadi momok bagi para pelaku penculikan dan bagaikan malaikat yang tidak kenal lelah dalam memperjuangkan keadilan bagi para keluarga korban penculikan. Selain itu, Munir juga memprakasai pendirian Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia, atau IMPARSIAL pada tahun 2002.
Konsistensi Munir dalam penegakan HAM dan keadilan di Indonesia bukan tanpa resiko. Berbagai ancaman dan teror pernah ia rasakan, hingga puncaknya pada tanggal 07 September 2004 ketika sedang melakukan penerbangan ke Negeri Kincir Angin Belanda guna melanjutkan studi doktoralnya, ia diracun di udara. Arsenik, demikian nama racun yang dimasukkan ke dalam tubuh Munir sehingga nyawa sang pejuang tersebut melayang. Hingga kini dalang dibalik pembunuhan Munir tersebut belum terungkap.
Sepanjang hidupnya (1965 - 2004) Munir menerima berbagai macam penghargaan dari seantero negeri dan luar negeri. Diantaranya The Right Livelihood Award di Swedia (2000), sebuah penghargaan prestisius yang disebut sebagai Nobel Alternatif dari yayasan The Right Livelihood Award Jacob Von Uexkull, Stockholm, Swedia, di bidang pemajuan HAM dan kontrol Sipil terhadap militer di Indonesia. Sebelumnya, majalah Asiaweek (Oktober 1999) menobatkannya menjadi salah seorang dari 20 pemimpin politik muda asia pada milenium baru dan Man Of The Year versi majalah Ummat (1998).
Guna mengenang sosok dan perjuangan Munir inilah didirikan Omah Munir pada tanggal 08 Desember 2013, di kota Batu. Bukan untuk mendewakan sosoknya, melainkan mengenang jasa, perjuangan serta memahami dan mempraktekkan pemikirannya dalam bidang penegakkan HAM dan keadilan. Omah Munir diharapkan menjadi ladang persemaian Munir-Munir baru yang kelak akan menjadi pejuang Penegakan HAM dan keadilan di Indonesia

Penulis Bersama Suciwati Munir, Ibu Sumarsih, dan Butet Kertaradjasa di Omah Munir



You Might Also Like :